Kesenian Jepang

Kurazano FUROSHIKI (Seni Melipat Kain)

Saya berdiri di depan kasir di Mitsukoshi, lalu mengeluh karena saya tidak ingin membeli tas!

Sebagai pengganti, Saya membuka ransel dan menarik lipatan Furoshiki dengan rapi. Saya mengikat salah satu dari ujung kain Furoshiki. Sisa dari dua sisi, saya ikat hingga membentuk segi empat dan bunga. Saya mempunyai tas tangan yang sederhana, tetapi tetap terlihat modis. Wanita yang berada di meja kasir bingung. Tentu saja wanita tersebut tidak bisa berkata apa-apa, tetapi terlihat dari raut wajahnya yang sangat takjub. Saat saya menggunakan tas tersebut, saya mendapatkan banyak pujian, mereka berkata, “Kamu lebih bagus daripada orang Jepang dan ternyata kamu sangat tahu dan mengerti cara menggunakan Furoshiki,”

Itulah salah satu pengalaman saya waktu itu. Perlu Anda ketahui

Furoshiki merupakan potongan kain berbentuk persegi yang digunakan untuk membungkus dan nmembawa karung. Furoshiki dapat dibuat dari kain sutra, katun, biasanya terbuat dari bahan-bahan yang didaur ulang. Mereka membuat dengan ukuran, model dan kisaran harga yang bervariasi.

Kain yang digunakan untuk membungkus dan membawa barang telah lama dikenal manusia. Kain ini dapat dijumpai hampir di seluruh kebudayaan di dunia. Namun sebaliknya di Eropa. Di Jepang, asal-usul Furoshiki bermula di periode kekuasaan Nara. Saat itu Furoshiki disebut dengan Tsutsumi, pada zaman kekuasaan Heian mereka disebut dengan Koromo-zutsumi dan digunakan untuk membungkus pakaian.

Kemudian, di Zaman Muromachi, Shogun Yoshimitsu Ashikaga membangun tempat pemandian yang besar (Ou-yudono) dimana Daimyos dari seluruh penjuru negara datang ke sana untuk mandi. Setelah mereka melepaskan pakaian mereka, mereka membungkusnya dengan kain sutra, yang biasanya tertera simbol keluarga, ini sebagai penanda supaya pakaian milik mereka tidak tercampur dengan orang lain. Di Zaman Edo, tempat pemandian umum menjadi sangat populer di kalangan masyarakat. Walaupun mereka tidak menggunakan tas berbahan vinil serta kelengkapan lainnya seperti pendahulu mereka ,  mereka membawa sabun, handuk dan pakaian dalam sebuah kain yang disebut  Furoshiki.  Adapun keranjang atau kotak persegi untuk menyimpan pakaian, seperti yang kita punya sekarang, belum dijumpai pada zama Edo.

Orang-orang biasanya membentangkan kain yang akan dilipatnya di lantai seperti tikar, lalu mereka melepaskan pakaiannya, melipatnya , lalu ,membungkusnya dengan rapi. Saat mereka selesai mandi, mereka melipat handuk yang basah, membereskan sabun dan kelengkapan lainnya untuk mereka bawa pulang ke rumah.

Penjelasan mengenai kata Furoshiki, terdiri dari kata Furo yang artinya mandi dan Shiku yang artinya membentangkan.

Sekarang, Furoshiki dapat digunakan dalam kebutuhan yang berbeda, tergantung dari ukurannya. Furoshiki yang kecil dapat digunakan untuk membungkus uang sebagai hadiah, tempat tisu, keranjang kecil, buku-buku, buah dan tidak lupa bekal nasi. Sedangkan Furoshiki yang besar dapat digunakan untuk kain pembungkus botol, semangka, kotak besar, tas belanja, taplak atau dapat juga digunakan untuk dekorasi perayaan Natal atau Tahun Baru. Saya biasa menyimpan pakaian dengan rapi di dalam koper atau tas untuk perjalanan, Saya juga biasa menggunakannya sebagai kain pembungkus komputer dan printer tentunya. Saya yakin, banyak cara untuk menggunakan kain ini, semuanya tergantung dari kreativitasnya masing-masing.

Furoshiki biasa didapatkan dari potongan-potongan kain kimono dari toko-toko besar (seperti Toko Mitsukoshi atau Toko Yamakataya), tapi mereka menjualnya kembali di toko kimono yang lebih kecil.

Harga Furoshiki yang berukuran 45 cm x 48 cm berkisar mulai dari 500 Yen ke atas, furoshiki yang berukuran 90 cm x 93 cm mulai dari 1500 Yen dan yang berukuran 105 cm x 108 cm seharga mulai 2000 Yen ke atas. Kisaran harga tergantung dari ukuran, bahan, model dan pabrik yang memproduksi barang. Saat Anda membeli furoshiki, sebaiknya mengetahui bahan yang akan dibeli, apakah terbuat dari sutra sehingga dapat dicuci menggunakan uap panas atau terbuat dari bahan benang kapas (wool) sehingga harus dicuci menggunakan tangan. Saya lebih memilih bahan yang terbuat dari benang kapas, karena harga yang lebih murah.

Alasan mengapa saya menyukai furoshiki, furoshiki sangat ringan, indah, tradisionil, dan modern sampai sekarang. Saat ini, banyak produk yang menggunakan bahan yang ramah terhadap lingkungan, sehingga tidak menggunakan tas yang terbuat dari vinil atau pun plastik.

Suatu saat nanti, saat saya kembali ke rumah saya di Jerman, saya berencana untuk membeli furoshiki sebagai cindera mata.

Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak mengenai Furoshiki, silahkan melihat di buku karangan Chizuko Morita :

& Furoshiki nyumon (hanya ada di Jepang)

ISBN 4-391-12444-0

& Tsutsunde,musunde, furoshiki ni muchu (hanya ada di Jepang)

ISBN 4-529-03484-4

& Furoshiki ni shitashimu

ISBN 4-473-01828-8

(Saya pribadi sangat menyukai buku ini, cara menjelaskan mengenai bahan pembungkus dalam Bahasa Inggris, bacaan yang menarik meskipun tulisannya berbahasa Jepang) Atau dapat dilihat di situs kami di : Furoshiki kenkyukai, kelompok yang mempersembahkan Furoshiki.

Untuk saran dan kritik, silahkan mengunjungi alamat kami di :

http://homepage2.nifty.com/furoshiki_sg/

Selamat membungkus!

Annette

Furoshiki Kenkyu Kai :

E-mail CXV00174@nifty.ne.jp

Leave a Reply