We’re Gonna Go Dancing

Sejumlah penari kontemporer Jepang tampil di Gedung Kesenian Dewi Asri STSI Bandung, 29-30 Juni 2008, mulai pukul 20.00 WIB.

Pertunjukan ini dieselenggarakan Japan Contemporary Dance Network (JCDN) yang berpusat di Tokyo. JCDN sendiri merupakan sebuah organisasi non profit yang didirikan pada tahun 2001 di Kyoto. Lembaga ini bertujuan menjadi jembatan antara seni tari dan masyarakat luas. Juga mengorganisir beragam tipe program untuk mendorong perkembangan tari di dalam masyarakat, membuat jejaring yang menghubungkan seniman tari, organisasi tari, yayasan seni, pengelola kegiatan seni, kritikus seni, dan lainnya.

Proyek ini sendiri sudah dimulai sejak tahun 2000 dengan delapan seniman yang berkeliling di Jepang. JCDN memulai “We’re Gonna Go Dancing” di Asia dengan tujuan untuk menciptakan; sebuah jaringan tari di Asia yang berkesinambungan, sebuah bentuk komunikasi baik di antara para seniman dan pengelola kegiatan seni serta komunikasi di kalangan mereka sendiri, sebuah kesempatan bagi seniman tari di asia untuk saling memberikan stimlasi, dan sebuah kesempatan bagi para penikmat seni untuk mengenal tari kontemporer asia terkini serta pertukaran budaya baru di luar masalah politik atau pun rintangan budaya tanapa harus mengusasai bahasa tertentu

Dalam pertunjukannya ini para penari Jepang menampilkan lima tarian diantanya dibawakan oleh Hiroyuki Miura, pemimpin M-laboratory. Dalam karirnya, ia selalu berperan sebagai penari utama dalam pertunjukan di Jepang maupun luar negeri.

Pertujukan pun dimulai dengan menampilkan tarian berjudul Returnee yang dibawakan apik oleh Masanori Hoshika koreografer, sutradara, sekaligus penari. Konsep dari tarian tersebut adalah menyusuri keberadaan yang sesungguhnya dalam pikiran, sebuah permaianan tetaplah permainan. Namun tarian ini telah kembali dari kesunyian yang panjang.

Ia sangat dipengaruhi dengan elemen-elemen Butoh yang kadang muncul dalam berbagai gerak tangan yang “ ingin” dilepaskan dari tubuhnya . Ada saat-saat ketika tidak ada sinkronisasi “ komamdo” gerak yang menjadikannya sebagai sebuah pembatas frasa gerak yang kaya dengan geliat dan lompatan puntiran tubuh yang dilakukan secara berulang.

Menurut dosen STSI Bandung dan Pusat Kajian Humaniora Unpar F.X Widaryanto tarian ini Meski gejala representasi tubuhnya memberikan kesan Barat, dengan rambutnya yang berwana pirang, ia tidak memunculkan dasar teknik barat sebagi pijakan kinestetik yang dijelajahinya. Ia secara cerdas menggunakan papan scramble dengan huruf-hurufnya yang terkadang ia kulum dan smeprotkan ke luar. Sebagai ungkapan dari bagian “verbal” yang justru dihindarinya.

Bahkan sejurus kemudian ia memasang patung sebuah sosok dinosaurus di atas papan tadi untuk memberikan makna denotative ketimbang makna simbolik kata yang memang kemudian dirasakan tidak diinginkannya.

Ini adalah ungkapan santun seorang Jepang yang memang tidak mau berperang sehingga emosi yang berkembang tidak diwujudkan dalam transfigurasi bentuk dalam ukuran yang spektakuler, tetapi justru sebaliknya dipresentasikan dalam pengecilan bentuk yang juga menyingkapkan teknologi Jepang secara liris.

Inilah kekuatan ungkap seorang Masanori Hoshika yang melintas batas tanpa harus pusing dengan fenomena scramble yang ditawarkannya.

Sajian Kedua yang ditampilkan kelompok PINK dengan para penarinya Miki Isojima, Wakana Kato, dan Megumi Suka, lebih memberikan penjelajahan ruang yangyaris tiada henti. Kekuatan fisik dari ketiga gadis ini luar biasa. Mereka memang terihat didasariodengan teknik balet sehingga teba gerak kaki yang mengayun dan terangkat, memberikan kesan yang kental akan dasar-dasar teknik ini.

Dalam koreografinya, sesekali mereka menjelajahi gerak-gerak pinggul dalam modus tampila yang jazzy, dan pada kesempatan lain mereka melakukan gerakan rampak yang sangat padu. Beberapa kali mereka mencoba membangun partisipasi penonton dalam pancingan ritme yang memikat sehingga suasana timpukan teriakan penonton pun semakin membahana.

Pertunjukan selanjutnya dilakukan Mugiyono Kasido dengan mengusung “Kabar-Kabur”. Ia betul-betul menikmati tubuhnya yang lentur dengan kekuatan keseimbangan yang tinggi. Meski setiap perubahan posisi tubuhnya tidak memunculkan sebuah “ keindahan”, tetapi anehnya tubuh itu mamp memunculkan berbagai citra dehumanisasi tubuh dengan berbagai varian perwujudannya.

Nuansa menghibur sekaligus kritis reflektif ini jugs disuguhkan oleh repertoar terakhir dalam “ We’re Gonna Go Dancing” yang dilakukan oleh sekelompok Dance Theatre LUDENS yang diberi judul “Be”. Koreografi yang dibuat oleh Takiko Iwabuchi dan dibawakan apik Yukari Ota dan Keichi Otsuka ini, menampilkan fenomena biner yang beragam antara lelaki dan perempuan dala berbagai perfektif yang berbeda-beda. Suatu saat sang lelaki mencoba untuk memegang kaki. Atu pun bagian tubuh pasangannya.

Tetapi, sang perempuan menghindar dalam berbagai jelajah lilitan tubuh yang saling lengket dan terpisah, namun dalam arogansi feminimitas yang tinggi. Terlihat dari cara upaya sang perempuan memproteksi dirinya atas “ serangan” pasangannya

Keberagaman materi yang didukung dengan sound system yang prima ini, di Jepang sendiri sudah sampai pada semangat untuk menarik diri lebih pada kebutuhan social ketimbang kebutuhan pertunjukan ekslusif yang menguntungkan di pertunjukan besar .

Alhasil, mereka tidak hanya menghibur, tetapi memberikan rasa kebanggan baru akan kebutuhan eksistensi dan aktualisasi diri penarinya, karena secara tidak langsung juga merupakan representasikolektif dari asal negara mereka masing-masing. Bagi kita Indonseia inilah oasis di tengah-tegah keterpurukan dan kekeringan akan rasa bangga menjadi oang Indonesia. (Rahmat Saepulloh)

Leave a Reply